Thursday, March 24, 2011

Chiang Mai : Perburuan Tea House



Siam Celadon Tea House

158 Tha Pae Rd., T. Chang Moi, Muang District, Chiang Mai
































Lupa namanya, maaf. kalau idak salah ini salah satu paket breakfast mereka. Vegetarian Spring roll, dihidangkan dengan buah-buahan dan potongan brown sugar cake. Tehnya adalah Siam Black Tea merupakan Signature Teanya Siam Celadon Tea House



Siam Celadon Tea House ini terkenal dengan teh merek Raming Tea.. karena itu sering disebut juga The Raming Tea House Siam Celadon. dan jasmine teanya.... haruuum dan enak, dan murah! :)

Friday, March 18, 2011

Chiang Mai : Vegetarian Heaven Part 2


Tianzi Tea House
119/1 Kampangdin Rd, T, Changklan, A, Muang
ChiangMai, Chiang Mai 50100, Thailand








Petualangan mencoba makanan vegetarian di Chiang Mai membawa kami ke Tianzi Tea House.

Tempat ini memang sudah ada dalam daftar sebelum keberangkatan ke Chiang Mai.

Tianzi Tea House merupakan bagian dari Tianzi Biodiversity Research & Development Centre yang berpusat di Yunnan China.

Mereka menyajikan makanan sehat dengan suasana tempat yang alami. Menurut pengalaman orang-orang yang datang kemari, harus sabar menunggu, jadi kami nikmati aja duduk-duduk di gazebo (orang jawa pasti bilang di pendopo) di antara tanaman2 mirip hutan, dan leyeh-leyeh di bantal a la Thailand yang bentuknya segitiga itu loh...







Steak Tofu.. Healthy & Yummy








Buckwheat Salad.. semacam pasta tapi pastanya dibuat dati tepung buckwheat yang tidak mengandung gluten, jadi bukan terigu.

Nah...yang bulat-bulat kecoklatan, mirip pasta kerang, itulah buckwheat pastanya











Brown Rice Salad. dihidangkan dengan saus kacang, dan taburan wijen coklat (alias yang belum dibuang kulitnya) dan wijen hitam




Just for your information, semua makanan ini lezaaat, delicious!! Siapa bilang makanan vegetarian itu tidak enak :)

Monday, January 17, 2011

Chiang Mai: Vegetarian Heaven... Part 1

Perjalanan ke Chiang Mai, bulan desember lalu merupakan perjalanan impian. Pertama, Fifo sudah lama ingin ke Chiang mai dan kedua, saya sudah lama ingin balik ke Chiang Mai :). Sesederhana itu memang...

Thailand - boleh saya bilang surganya makanan enak - oke salah satunya lah, karena Indonesia juga surga makanan enak hahaha..

Chiang Mai pernah saya kungjungi sekitar 4 tahun silam secara singkat dalam suatu Study Visit dari Bangkok. Kalau waktu itu saya tidak menjelajah sendiri dan sulit menemukan makanan terhidang yang bukan daging babi, maka sekarang kami menjelajah secara independen, dan seperti halnya perjalanan yang lain segala rupa tempat makan yang disarankan dan tempat makan yang ingin saya datangi sudah tercatat... dan saya sendiri cukup heran menemukan banyak juga yang tergolong vegetarian food. Coba saya temukan 4 tahun lalu....

Perburuan Phad Thai. Phad Thai merupakan salah satu makanan Thai kesukaan kami dan sudah diniati akan makan Phad Thai di tempat asalnya haha... Maka ketemulah warung ini, tidak ada di bacaan tentang resto-resto, saya menemukannya di Chiang City Life Guide: 108 places to eat in Chiang Mai. dan ini bukan restoran, ini adalah jualan Phad Thai dengan gerobak, dan tempat duduk nya disediakan di sebuah tempat bersemen dengan meja stainless steel dan kursi-kursi plastik. dan antrian pembelinya yang mau beli dibungkus mengekor bagaikan ular :). Rasanya...? memang Ruaaarbiasa!! Harganya? 25 baht!! dan karena golongan kaki lima, tentu saja ini phad thai gak pakai udang seperti yang kami sering lihat dan makan. campurannya memang hanya tahu, toge dan telur. di bagian belakang disedikan meja panjang dengan baki-baki besar berisi ketimun, jeruk, kucai, toge segar bagi yang ingin menambah sayur, sekalian dengan es batu, tinggal ambil sendiri gelas dan esnya karena di meja-meja sudah tersedia "jug" berisi air putih. sangat amat ekonomis kan?

Food Coming from Heaven : Taste From Heaven.
237-239 Thapae Rd. (opposite Krung Thai Bank)

Kami tidak ragu bahwa memang makanan di tempat ini datang dari Surga...hahaha.. karena rasanya memang yummy dengan penyajian yang menarik (maaf, foto-foto perlu ditemukan dulu.. )


Inside the Temple: Pun-Pun.
Wat Suan Dok temple - Suthep Road
Ini memang bukan pertama kalinya kami makan vegetarian food di dalam Temple - pernah di Da Nang, tapi memang ini pertama kalinya kami makan di dalam temple di bawah Boddhi Tree dengan menu a la carte dan dengan kelezatan yang sebenar-benar nya... :)
Menu yang mengandung telur akan dicetak tebal, jadi kalau tidak mau telur, skip saja bagian bertelur ini :)










Mushroom Satay











Phad Thai & Gang Masaman (alias masaman curry)












Steak Tofu










Visit here to see more : http://www.openchiangmai.com/v2355.html


Kombucha Tea for The First Time : Dada Kafe.
20/1 Ratchamankla Road, Prasing, Muang, Chiang Mai 50200

Tempat ini dekat dengan penginapan kami di Ratchadamnoen, dan sudah saya baca sebelumnya tentang menu-menu sehatnya. Selain Organic Wheatgrass yang ditanam sendiri, minuman sehat yang disarankan adalah Kombucha Tea - tidak seperti teh pada umumnya, lebih mirip wine atau lebih tepatnya apple vinegar kali yaaa... :). Jadi kalau tidak suka rasa asam sebaiknya tidak minum, tapi kalau pengen merasakan minuman sehat ya coba saja kan tidak ada salahnya.























Vegetable Fried Rice, Vegetables soup & Kombucha Tea










I'll be right back............. :)

Thursday, November 11, 2010

Addicted to Vegetarian Food

Last week, we were so addicted to Hoa Dang Loving Hut Vegetarian Restaurant. We went there 2 days in row..!! (belum tau saya kenapa Hoa Dang sekarang bertambah namanya dengan Loving Hut). Better go there for dinner more elbow room than lunch :)

Pergi ke Hoa Dang bukan pertamakalinya, asalnya ini adalah gara-gara malas memasak. dan karena Fifo sudah bertekad sebulat-bulatnya menjadi vegetarian dan raw foodist, maka Hoa Dang lah jadi pilihan. sebab sudah terlalu sering ke Phap Hoa, sudah sering juga ke Tin Nghia, sudah sering pula yang di jalan Le Hong Phong.

Ini foto-foto hari pertama. Hari keduanya gak ada foto, selain gak bawa kamera, waktu itu kami datang dalam keadaan hujan. Dan sebetulnya sudah niatan pesen sup kacang...masalahnya sup kacangnya dalam mangkuk mini...huhuhu.. saya paling benci dengan foto makanan yang tidak sesuai dengan kenyataan. Untungnya Vegetarian Goi Cuon nya enaaaak!! (tapi tetap gak ada foto yaaa..)
















Gỏi Rau Nhút (Neptunia Salad)

Rau Nhút adalah daun yang umum digunakan dalam masakan Thai, meskipun saya bertemu dengan nya waktu tinggal di Saigon. Bentuknya mengingatkan saya pada daun & batang pohon asam. Dijual di pasar dalam bentuk dahan & daun, namun hanya ujung-ujung dahan beserta daunnya yang dapat dimasak karena batangnya cukup keras. Demikian yang dijelaskan Son, dan yang juga biasa saya temukan dalam masakan Vietnam. Selain ditumis, umumnya dihidangkan untuk Hot Pot. Jadi buat saya, salad rau nhút ini yang pertama saya ketahui. Berhubung saya dan Fifo termasuk penggemar rau nhut, maka salad ini kami pilih, karena kalau Gỏi Du Dủ alias papaya salad sudah biasa banget.

Dalam bahasa Inggrisnya disebut Neptunia (neptunia oleracea lour / neptunia prostata) atau Water Mimosa, karena memang termasuk jenis tumbuhan air.

Nah nama Indonesianya apa? Ini yang belum saya temukan. Orang Malaysia menyebutnya Keman Air/Keman Gajah/Kangkung Puteri.












Chả Giò Chay (Vegetarian Fried Spring Roll)

Chả Giò adalah makanan favorit saya di vietnam, selain yang fresh. dan Chả Giò yang vegetarian lebih saya sukai, isinya bervariasi tergantung yang jual, umumnya adalah labu kuning, jamur, talas, kacang hijau, suun. Phap Hoa menurut saya memiliki the best chà giò chay.. :)










Cơm Hat Sen (Rice with lotus seed wrapped in Lotus Leaf)

Cơm Hat Sen merupakan nasi yang dikukus dengan biji lotus lalu dihidangkan dengan dibungkus daun lotus. Rasanya sih ada juga versi nasi goreng campur lalu dibungkus dengan daun lotus. Sedang saya cari dulu sejarah lengkapnya yaa...




Nhà Hàng Chay Hoa Dăng
38 Huynh Khương Ninh, Q1, Tp. HCM

Friday, August 13, 2010

Peace Roll - Vegetarian Food

Saya menemukan menu vegetarian baru yang menjadi favorit, segera setelah menggigitnya :). Namanya Peace Roll. Ini adalah hasil petualangan saya mencoba tempat makan vegetarian ZEN di Pham Ngu Lao, Saigon

Waktu itu karena makan sendirian, saya tidak berani mencoba banyak makanan, kalau ada Fifo kan ada yang membantu menghabiskan gitu. Jadi waktu itu hanya pesan sup dan makanan pembuka yang ringan. Setelah mempelajari menunya dengan serius bak orang yang mau ujian skripsi, saya tertarik dengan sebuah nama: Peace Roll. Saya tanyakan pada pemiliknya " cái này là cái gì?" alias apakah ini? dia bilang ada wortel, tahu.. Okelah, saya coba.

Rasanya? Wuenak tenan. Peace Roll adalah Fresh Spring Roll-dengan kulit lumpia vietnam yang tipis itu alias bánh tráng, diisi dengan wortel, jamus, tahu dan daun selada lalu di gulung. 4 gulungan kecil dijadikan satu dan digulung lagi menjadi gulungan besar.

Menu vegetarian yang segera menjadi favorit saya!! :) dan saya sudah bercita-cita membuatnya sendiri..

Tuesday, June 29, 2010

Tumis Daun Labu

Segala rupa daun dengan gampang saya temui di pasar, kayaknya segala rupa daun menjadi makanan orang Vietnam. Salah satu daun yang kami suka waktu ke Hai Phong adalah daun ubi / ketela. Terus kami juga jatuh cinta dengan Hoa Bi Vang, mirip bunga lily warnanya kuning, biasanya merupakan "sayur" wajib kalau makan hot pot, bisa juga diisi lalu digoreng tepung. Lalu kami pernah mencoba, nah ini yang lupa dimana dan kapan, yang kemudian kemarin saya temukan di pasar adalah daun labu lengkap dengan bunganya kecil-kecil kuning plus sulur-sulurnya yang membentuk spiral itu
Jadi ini pertamakalinya saya memasak sendiri Tumis daun labu, cukup dengan bawang putih dan kecap asin saja, sebagai tambahan adalah potongan tahu putih. Rasanya? gak beda jauh dengan bayam :)






Ini penampakan Daun Labu Before & After :)

Sunday, June 27, 2010

Sweet Potato in Lemongrass Gravy - Ubi Jalar kuah Serai

Ubi jalar merah adalah makanan favorit saya, dikukus begitu saja tetap enak, untuk camilan sore hari, kadang juga pagi. Beberapa hari lalu setelah baca-baca blog tentang makanan vegetarian, muncul lah ide untuk bikin masakan - bukan sekedar cemilan - berbahan dasar ubi jalar.

Sebetulnya sama sekali tidak kepikir mau dimasak apa, waktu itu baru kepikir ubi jalarnya dikukus saja, supaya tidak menunggu lama di wajan dan tingkat empuknya bisa diatur - saya tidak suka masak sesuatu yang terlalu matang.

Setelah sekian lama masak cuma berbekal bawang putih, maka saya mulai nulis-nulis lagi - maksudnya nulis apa saja yang mau dibeli di pasar besoknya hahaha... Jarang-jarang loh, saya merencanakan dengan baik mau beli apa dan masak apa, sejak lebih sering ber-raw food ria. Itupun akhirnya yang tertulis di kertas cuma ubi jalar merah, terong..hahaha.. waktu di pasar akhirnya beli serai cincang itu juga muncul begitu saja. Serai cincang? betul! Itulah senangnya tinggal di apartemen sekarang ini yang dekat dengan pasar becek tercinta itu. Serai, bawang putih, bawang merah, termasuk cabai sudah dicincang (kalau di pasar indonesia biasanya digiling).

Resep ini cuma membutuhkan ubi jalar merah kukus yang sudah dipotong kotak-kotak sesuai selera (atau ubi jalar lain yang disukai), terong dipotong kotak-kotak, bawang putih cincang, serai cincang, tomat cincang, kecap asin dan garam. Mudah bukan?

Memasaknya: tumis bawang putih cincang, tambahkan serai cincang, tumis hingga agak kering, masukkan tomat cincang, tambahkan kecap asin dan garam, tuang air sesuai selera, tunggu sebentar hingga kuah agak merah, masukkan terong, terakhir masukkan ubi jalar, aduk-aduk sebentar. angkat. hidangkan. Voila!!


Demikianlah resep gampang masakan ubi jalar merah :). Kalau mau tahu apa saja khasiat ubi jalar merah, baca-baca di posting sebelumnya ya... klik saja label ubi merah.



Monday, May 24, 2010

Meat Free Monday

Today is a Meat Free Monday.. So Meat free it is! :) Meskipun pada dasarnya hampir setiap hari buat saya adalah meat free. Hampir...umumnya kalau weekend kadang masih makan entah udang, ikan atau ayam. Umumnya..kadang-kadang weekend juga gak makan daging.

Saya sekarang semakin gak doyan makan daging dalam potongan gede, misalnya daging sapi yang dipotong kotak-kotak atau lebih besar lagi, atau ayam goreng. Boleh percaya boleh tidak...rasanya aneh, sulit ditelan, janganka menelan mengunyahnya terasa sulit, tepatnya seperti orang jawa bilang "nggilani".. Sulit kan nyari padanan katanya? :) Kalau dagingnya berupa cincangan, nah masih bisa saya memakannya. Kapan terjadinya? tepatnya saya juga tidak tahu, mungkin waktu saya semakin rajin gak makan daging. Kalau ketemu dagingnya bukannya semakin mencari atau terasa lebih nikmat, malah terasa aneh.

Sudah 100% tidak makan daging?... belum! Kadang saya masih makan telur, meskipun seperti halnya kadang-kadang di akhir pekan makan daging, maka makan telur juga jarang-jarang.

Nah..bagaimana dengan Meat Free Monday hari ini? Tadi pagi sarapan Vegetarian Nachos. Nachosnya ya nachos biasa terbuat dari jagung. Isinya kacang merah, irisan daun selada, irisan tomat dan bubur avokad di Huong Viet alias Vietnamese Aroma. Salah satu tempat favorit saya, terutama kalau pengen makan French Toast. Satu manajemen dengan La Cantina - yang makanan Mexiconya juga enak-enak, reasonable price dan quite generous portion. Sedangkan Huong Viet lebih banyak memiliki menu makanan Vietnam selain Mexico & Western.
Kok tumben gak sarapan buah? Bangun nya telaat..bangunnya sih tetap pagi. Turun dari ranjangnya yang telat.. Gak tau kenapa this morning turned to be a lazy monday :).

Makan siang di Pháp Hoa Cơm Chay. Depot Vegetarian favorit kami. Murah meriah pula, makan berdua termasuk minum es tehnya 40.000VND alias 20.000 rupiah. Tumis jamur, salad sayur dan vegetarian lumpia (isinya talas, lapu parang & wortel). Sebelum pulang, mbungkus dulu 3 biji lumpia. Biasanya jam 5an gitu agak-agak lapar :). Ternyata saya tidak lapar blasss...hari ini begitu panasnya, sampai saya lebih kehausan daripada kelaparan.

Makan malam? saya tidak makan malam. Cuman menemani Fifo makan, sambil menghabiskan lumpia nya Pháp Hoa tadi - yang sedianya buat cemilan sore - dan minum jus jeruk bali tanpa gula alias sugar free pomelo juice alias nước ép bưởi không dường. Masih lagi segelas es teh tawar, dan segelas lagi setelah sampai di rumah.

Begitulah Meat Free Monday saya... :)



Huong Viet / Vietnamese Aroma - 175/10 Phạm Ngũ Lão, Q1, HCMC

Pháp Hoa Cơm Chay - 200 Nguyễn Trãi, Q1, HCMC

Thursday, May 6, 2010

Trying to be 100% vegetarian

I'm trying to be 100% Vegetarian. Why? alasan utama memang adalah kesehatan - health reason, namun alasan lain juga karena I love this planet... Saya juga merasakan bahwa bumi ini semakin panas, tidak nyaman ditinggali, tapai apa ya ada tempat lain buat pindah? Jadi kalau menjadi vegetarian bisa mengurangi Global Warming, so why not?

Sejauh ini, baru bisa sehari-hari vegetarian, waktu weekend masih makan daging sekali-sekali, sambil meminta maaf pada hewan yang saya santap. It's true!! setiap mau makan, saya bilang "ayam maaf ya kamu saya makan...." hehehehe...

Lalu menu hari ini? Saya bikin jamur tumis dan tahu. Tadinya mau bikin jamur-tahu tumis kecap dengan lalap dan sayur kukus. Ternyata Fifo gak jadi makan di rumah. berhubung makan sendirian, ya sudah porsi jamur dan tahu dikurangi. Sayur yang tadinya mau dikukus, mau saya cemplungkan saja ke tumisan tahu-jamur, lalu dihidangkan dengan daun selada & tomat.

Sekarang sih, saya sedang menikmati jagung kukus ditaburi kacang hijau, parutan kelapa dan bawang goreng. "Cemilan" favorit saya di Vietnam ini.. :)

Tadi pagi, sebagai sarapan adalah jambu air dan papaya potong.. lalu 30 menit kemudian ditutup dengam minum segelas jus Rau Ma.. alias daun pegagan.. Sekarang tidak terlalu sering minum rau ma but still my favourite..

Tuesday, August 11, 2009

Wonderful tempe


Ini tempe baru... baru segalanya! Kedelainya baru beli, Raginya baru dapat, tempenya baru jadi langsung di foto... (ini 2 hari lalu..)

Senangnya hari saya... tempenya putih dan cantik, lihat aja bahkan serabut temepnya juga cantik.

Hingga hari ini tetap saja saya pakai takaran sendok - tetap gak punya timbangan - hehehehe..

Ini sekitar 15 sendok makan kedelai, saya pakai raginya 2 jumput setengah.

Kalau nguliti tidak lagi dalam air seperti biasa, selesai saya rebus, saya diamkan agak dingin lalu saya saring, baru saya kuliti, kulit langsung masuk keranjang sampah, jadi saya tidak bolak-balik membilas dengan air seperti halnya kalau menguliti dengan kedelai tetap dalam panci beserta air rebusan nya (dan itu pun tetap saja bikin tangan pegel gak keruan... hehehe)

Dan - mungkin ini adalah berkah - selama di Saigon, tempe ini selalu sukses kalau pakai daun pisang, bukan plastik

Jadi kira-kira tempe saya sukses bila...

* Pakai kedelai yang besar bulat-bulat (kalau yang gepeng terlalu keras)

* Merebus kedelainya tidak 30 menit - 20 menit saja cukup (kecuali mau tempe yang empuk sekali waktu dimakan)

* Menggunakan daun pisang

* Dan resep standar lainnya, ragi baru, tetap kering, tangan tidak basah selama meragi, perlatan bersih, tempat menaruh ragu bersih

* O iya... bagian atas keranjang tempat saya naruh tempe, saya tutupi serbet..

Hari ini Tempe Day lagi, kali ini mencoba peruntungan dengan menggunakan plastik lagi...

Mari kita lihat hasilnya.. Sim Salabim Abakadabra... !

Saturday, June 6, 2009

Tempeku..Oh Tempeku

Setelah gagal dan gagal lagi, sejak kembali dari Indo, hari ini nyoba bikin lagi. Dengan semangat yang agak kendo sih. Mana waktu ngupasnya, ndoprok di lantai, sambil tangan pegel dan jari-jari kisut..cuman 12 sendok kedelai padahal.

Eh...sedang asik-asik menunggu kering, dan berharap hari ini tiada lagi kegagalan, ternyata Fifo sudah pulang, maka waktunya untuk pertandingan tenis sudah datang. Walah..walah..!

Tadinya sudah maju mundur antara ikut atau tidak, secara sudah capek-capek ngupas gitu loh.. gak rela juga kalau gagal lagi. Tapi berhubung ke Hoa Dang di jalan Dien Bien Phu dia gak tahu, saya pikir kalau dia nyasar maka ketemu Nelson semakin telat ke pertandingan juga telat, wah tambah runyam. Ya sudah lah rela aja ikut.

Seperti sudah di duga kalau kedelainya dikeringkan tapi tidak ditungguin, maka yang ada jadi kering kerontang, kalau sudah begitu tidak bisa dikasih ragi. Sampai saya bela-belain pulang dari pertandingan tadi memilah yang masih bisa "diselamatkan" alias yang gak kekeringan. Kasih ragi, masukin ke plastik, meskipun jadinya mini, masih berharap besok malam akan jadi tempe...

Tempe Oh Tempe.... masih punya semangat aku untuk bikin lagi, meskipun minggu depan bakal sibuk volunteering... (jadi kapan bikin nya dong...)

Kayaknya ronde berikutnya musti pakai daun pisang nih...

Wednesday, June 3, 2009

Tempe ku... Gagal Maning..Gagal Maning

Wuah... ternyata saya tidak cuman jatuh bangun untuk hidup sehat. Bikin tempe pun bisa bikin jatuh bangun. Sudah 2 kali sejak pulang ke Indo, april kemarin, bikin tempe tidak ada yang berhasil. 3 hari lalu bikin tempe, gatot! alias gagal total, tidak jadi blasss..! tetep aja berbentuk kedelai. Kemarin bikin lagi, setelah semalaman kok saya belum melihat tanda-tanda bakal jadi... Duh! apalagi yang salah! Padahal bikin di rumah selalu sukses, tempe jadi demikian indah dan orang-orang di rumah pada doyan.

Padahal AC di ruang tamu tadi malem juga gak nyala, jadi apa dong???
BIasanya pakai kantung plastik juga jadi, meskipun kadang-kadang juga sih... malah kadang-kadang 50-50 (ini bukan metode bantuan di Who wants to be millionaire..), alias kalau bikin 4, kadang ada 1-2 bungkus gak jadi, yang lain jadi. Dan sejauh ini kalau saya bungkus dengan daun pisang, pasti jadi. Mungkin jodohnya dengan daun pisang kali.

Padahal lagi - karena di srumah selalu sukses - waktu balik dari Indo, sudah bawa itu plastik yang sama persis, beli 5 pak lagi, banyak kan? Lah kalau gak kepakai, giman coba itu plastik, mau buat bekal makanan juga terlalu kecil.

Oh Tempe... kau buat diriku jatuh bangun mengejar mu...Halah!

Tuesday, May 26, 2009

Bertekad tidak minum susu sapi...


Sejak saya mencoba Food Combining kira-kira 8 tahun lalu (yang sekarang sering berantakan kembali hehehe...), saya sudah membaca dari bukunya Andang Gunawan, bahwa susu sapi itu hanya untuk anak sapi, bukan untuk manusia. Dan tidak pernah ada keharusan bahwa manusia itu perlu minum susu sapi. lalu tulisan Prof Dr Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme, semakin mengukuhkan bahwa tidak ada keharusan manusia minum susu sapi, itu cuman karena pintar-pintarnya produsen ber iklan (sehingga orang tua juga selalu mengeluh mahalnya harga susu untuk anak-anak). Mungkin pertanyaan "Why?", sudah mulai ada di beak anda, penjelasan paling simpel adalah karena pencernaan manusia berbeda dengan pencernaan sapi, karena itu susu sapi tidak cocok dikonsumsi manusia

Saya juga penggemar susu sapi, dari anak-anak paling doyan merek Klim, lalu setelah gede tergila-gila pada Dancow. Namun sejak menerapkan Food Combining itu tadi, saya mulai bergeser menjadi penyuka susu kedelai - tawar bahkan. Kadang-kadang di rumah bikin sendiri - cuman males nyaringnya, maklum punyanya cuman blender, bukan soya milk maker.

Nah... sekarang saya kembali bertekad untuk tidak minum susu yang sebetulnya hanya untuk anak sapi itu - sebab jelas, saya bukan anak sapi, saya adalah anak ibu saya yang manusia, hehehe.... Alasan utama jelas, supaya hidup lebih sehat. Karena itu susu kedelai juga tidak minum berlebihan, karena susu kedelai juga kalau berlebihan tidak sehat - apa sih yang kalau berlebihan bisa bikin sehat, ya kan? -

Setelah tinggal di Saigon, jangankan nyaring susu kedelai, blender aja gak punya, tapi... di pasar 'mini" kesayangan saya itu, saya bisa membelinya dengan 2000 VND saja, yang sering-sering saya minum 2x. Murah dan sehat kan?


Nah, kalau ingin tahu apa yang di tulis Dahlan Iskan di Jawa Pos, cobalh intip di sini: http://pambiwara.blogspot.com/2009/05/dahlan-iskan-susu-sapi-bukan-untuk.html

Saturday, May 9, 2009

Dragon Fruit - The Red One


Buah Naga merah, jarang-jarang kelihatan. Nah..ini waktu jalan ke Ben Thanh Market, ngeliat ini buah. Kalau yang umumnya daging buah warna putih, maka yang ini daging buahnya berwarna merah, makanya dibilang buah naga merah. Katanya sih ada lagi yang kulit buahnya berwarna kuning, tapi daging buahnya juga putih berbintik. Jadi yang merah ini spesial dweh. Khasiatnya? sama saja. Ini sekedar datanya:

Nutritional information per 100 g of raw pitaya :
Water 80-90 g
Carbohydrates 9-14 g
Protein 0.15-0.5 g
Fat 0.1-0.6 g
Fiber 0.3-0.9 g
Ash 0.4-0.7 g
Calories: 35-50
Calcium 6-10 mg
Iron 0.3-0.7 mg
Phosphorus 16 - 36 mg
Carotene (Vitamin A) traces
Thiamine (Vitamin B1) traces
Riboflavin (Vitamin B2) traces
Niacin (Vitamin B3) 0.2-0.45 mg
Ascorbic acid (Vitamin C) 4-25 mg



Fakta mengenai Buah Naga:
Common Name: Dragon fruit
Vernacular Names: Pitaya, Pitahaya, Strawberry pear
Scientific Name: Hylocereus polyrhizus


Baca di sini kalau ingin tahu lebih banyak : http://en.wikipedia.org/wiki/Pitaya

Tuesday, April 28, 2009

Morning Tea

Kala pagi datang....mulai terang tapi matahari belum nampak. Apa yang biasa saya lakukan? Membuat teh hangat dan itu haruslah Green tea. Dalam sebuah poci teh, tuangi sedikit air hangat bukan mendidih, buang airnya, lalu tuangi air hangat lagi sesuai yang saya inginkan. Secangkir...dua cangkir. Lalu duduk di teras rumah yang teduh, sambil menatap kebun, menikmati udara pagi, kicauan burung, dan suasana yang tenaaaang dan masih agak gelap.

Lalu di Vietnam? Sama saja! bedanya saya tidak punya kebun yang bisa saya pelototi sambil menghirup secangkir green tea. Jadi ya sudah..melotot saja pada pemandangan bangunan "rungsep" di depan saya dan apartemen-apartemen lain yang menjulang sejauh mata memandang.... tetap saja sambil menikmati udara pagi dan langit kemerahan (karena dari apartemen ini bisa melihat matahari mulai bersinar... kadang dengan guratan merah yang muncul lapis demi lapis atau kalau agak siang dikit mendekati jam 6 pagi, malah mendapatkan bulatan bundar berwarna merah serupa Apel Gala )

Aroma teh hijau yang meruap di udara pagi...Hmmmmm sungguh menenangkan. sambil bersyukur betapa indahnya hidup ini. Aktivitas ini biasa saya lakukan sebelum memulai ritual selanjutnya yaitu jalan kaki pagi hari.
Di Saigon, saya biasa membeli teh hijau (tanpa campuran jasmin) di langganan saya membeli kopi di Bén Thành Market : Mai Ly







Mai Ly
Cửa Hàng 845-847
Chọ Bến Thành

Sunday, April 26, 2009

Jatuh Bangun Aku...

Judul di atas, sama sekali bukan judul lagu dangdut... kata-kata itu hanya untuk menggambarkan betapa "menantang" nya bagi saya - saya menolak menggunakan istilah "sulit" - melepaskan diri dari suntikan insulin (dan sesungguhnya betapa berat buat saya untuk mengakui kalau saya menggunakannya, entah...). Mimpi saya dari dulu adalah bebas suntikan insulin. Segalam macam bentuk diet saya gonta-ganti, belum juga menemukan yang pas. Waktu saya mempraktikan Food Combining, saya merasa oke. Masih menggunakan suntikan dengan jumlah unit insulin yang kecil, tapi masih berubah-ubah tergantung yang saya makan.

Sekarang ini saya mencoba Teh Cincau Prof. Darwin, salah satu syaratnya, tidak boleh makan buah. Secara saya sudah biasa sarapan apel kalau pagi, sekarang saya jadi bingung harus bagaimana. Sedang saya usahakan kalau pagi makannya cincau hijau, dengan pertimbangan dia tergolong sayur (kan dari daun...), berharap dengan kalori kecil, indeks glikemik juga kecil, tidak banyak naik turun di frekuensi gula darah pagi. Kalau siang masih sering makan sayur atau salad - perhatikan kata-kata saya :sering, bukan selalu - Yep, ada yang berubah dengan kesukaan saya makan sayur beberapa tahun terakhir, sering tidak konsisten, on-off gak keruan. Belum lagi saya sering tidak setia minum Teh Cincau nya, kadang-kadang bolong, atau malah sering-sering. Jatuh bangun aku...

Dan beberapa tahun terakhir, saya sering kembali makan daging, apalagi di Vietnam ini, kalau lagi makan Phở Bò alias sup bihun daging sapi, dan benda bundar kesukaan saya si Bánh Bào alias bakpao. Jatuh bangun aku...

Sebetulnya 7-8 tahun lalu, saya bukan penggemar kopi lagi sebetulnya, itu salah satu awal saya jadi pecinta Green Tea. Tapi saya juga lupa, sejak kapan saya menjadi Coffee Lover lagi, ingatan saya saja tak mampu melacaknya.... lalu itu menjadi makin parah begitu saya pindah ke Vietnam, gak saking di negara ini setiap meter ada warung kopi, kafe, dan sejenisnya. Pokoknya jual minuman kopi lah. Belakangan saya mulai selektif, tidak setiap kafe saya coba dan tidak sering ngopi. Pertama, kalau kafe lokal biasanya pasti kopi susu dengan susu kental manis. Meskipun mau dinamai Cappucino, pasti dengan susu kental manis. Kalau kafe dengan model Italian atau French, apalagi dengan menyebut kopi apa yang dipakai, barulah saya coba... Niatan mencoba juga sudah banyak surut, karena sudah tau kalau pun pengen minum kopi, tempat minum kopi apa yang sepatutnya saya datangi, sebab dari pengalaman bereksperimen ria itulah melahirkan kesimpulan, daripada buang-buang duit percuma, lalu kecewa pula, mendingan yang jelas-jelas aja. Malah kadang-kadang saya bikin sendiri di apartement, seperti halnya waktu di rumah. Meskipun sering-sering seminggu 1-2 kali minum kopi, tapi tadinya saya kan bisa gak minum kopi, kalau perlu sebulan penuh, bahkan kalau bisa selama nya.... Jatuh bangun aku.

Saya betul-betul niat pengen menjadi The New Me, The Raw Food Dieter, setidaknya The Whole Food Dieter dulu lah.... Mimpi saya hidup sehat, bebas suntikan, bahagia.... Jadi Jatuh Bangun aku

Thursday, April 23, 2009

Hakau... dan Segudang Sayuran











Hakau, merupakan jenis dim sum, yang umumnya berisi udang. Dim Sum memiliki arti "Touch the Heart", ini saya tahu setelah menonton sebuah program kuliner TV kabel di Travel & Living . Sering disebut juga Yum Cha, yang arti sesungguhnya adalah "Tea Drinking" dalam bahasa kanton.

Hakau merupakan sebutan dalam bahasa Indonesia, Há Cảo adalah nama vietnamnya, dan banyak nama lainnya seperti har gow , har gau,har kau, har gao, ha gao, ha gow, ha gau, har gaw, ha gaw, har kaw, ha gaau, har cow, or har gaau. Hampir mirip-mirip kan? jadi kalau meleset nyebut sedikit, masih bisa dimengerti oleh yang mendengar...Lol. see detail here: http://en.wikipedia.org/wiki/Har_gow; http://en.wikipedia.org/wiki/Dim_sum

Di Vietnam, hakau bisa dibuat dan dihidangkan seperti resep aslinya terutama di resto-resto cina, atau di toko-toko di pecinan. namun yang saya temukan hakau dalam versi vietnam agak beda dengan yang saya tahu, isinya bisa jadi melulu daging babi, dihidangkan dengan sejenis kecap yang rasanya agak manis, sambal botol dan rau răm, daun-daunan yang bentuknya mirip kangkung tapi kecil dan baunya harum.

Versi saya? Hakau, rau răm, cincangan daun selada, daunt mint dan tomat. Enak? yah..untuk penggemar sayur macam saya, asal sayur bagi saya enak-enak saja. Wong cincau hijau saja saya makan begitu saja tanpa apa-apa, yang buat orang-orang di apartemen bisa menimbulkan reaksi semacam "makan cincau saja...???". Ya sudah lah, toh apa-apa yang saya makan sudah lama menimbulkan banyak reaksi bagi orang-orang di sekitar saya. Gak makan nasi heran, makan sayur doang heran, makan cincau heran, minum susu tawar heran, melihat bentuk salad yang saya buat juga heran...

Nah, hakau dan segudang sayuran, sebetulnya juga dipicu oleh cara makan orang vietnam yang apa-apa doyan dihidangkan dengan se-kebun sayuran. Setelah melihat cara menghidangkan si hakau ini, saya pikir-pikir daripada si rau răm itu sendirian, kan lebih baik saya carikan teman-teman nya, sehingga akhirnya makan Hakau dan...segudang sayuran :)






Rau Răm





Maaf, foto lengkap Hakau segudang sayuran versi saya belum ada, sebab sudah keburu lenyap dalam perut sebelum ingat untuk memotret nya :D

Murah Meriah Sehat...Cincau!

Dalam rangka semakin meningkatkan kualitas hidup saya untuk semakin sehat, saya semakin rajin mencari alternatif makanan sehat terutama buat sarapan. Kenapa sarapan? Aha...! pertanyaan bagus. karena kalau siang hari saya makan salad, atau sup. Nah..kalau pagi saya masih bingung, makanan alami apa yang cocok buat sarapan. Sekali lagi ini memang korban peradaban, makanan harus digolong-golongkan mana yang cocok, pagi, siang, malam. Emangnya salad gak bisa buat pagi...ya bisa bisa aja sih. Lha wong di Vietnam aja bubur adanya malam, bukan pagi kayak di Indonesia, jadi jangan cari-cari bubur ayam di Vietnam pagi hari, jawabannya cuman "không có" alias "tidak ada/tidak tersedia/tidak punya" atau paling banter gelengan kepala, sambil menunjukkan menu lain yang tersedia. Intermezzo ini... ;)

Jadi, kembali ke sarapan... dulu sudah pernah nyoba ubi, bukannya bosen, cuman nyari variasi gitu lah. Nah..pilihan jatuh pada cincau. Pertimbangan memilih cincau adalah pertama cincau banyak seratnya, karena dibuat dari daun. kedua, dia sehat karena tergolong sayur..iya kan?. ketiga, rasanya segar, tidak eneg dan bisa dimakan sesukanya asal bukan satu baskom. Nah dengan semua kualitas itu pastinya dia alami kan? bener kan? lho saya kok jadi ragu sendiri.

Sama halnya dengan di Indonesia, di Vietnam tersedia 2 macam cincau yang hitam biasa disebut sương saó, dan yang hijau biasanya disebut sương sa atau sương sâm. Bedanya apa? Cincau hitam dibuat dari tumbuhan dari genus Mesona, terutama M. procumbens, M. chinensis yang banyak diproduksi di Tiongkok bagian selatan serta Indocina, atau M. palustris yang banyak digunakan di Indonesia, menghasilkan cincau hitam. Sedangkan Cincau hijau dari tumbuhan Cylea barbata Myers. Namun di Vietnam, cincau hijau dihasilkan dari tumbuhan Tiliacora triandra. (baca di sini untuk selengkapnya: http://en.wikipedia.org/wiki/Grass_jelly)

Ibu saya, kadang-kadang bikin sendiri cincau hijau, saya sih belum pernah melihat beliau bikin sendiri, karena waktu itu sudah tinggal di Surabaya, cuman beliau suka cerita bagaimana cara membuatnya, dengan meremas-remas daun cincau, hingga mengeluarkan lendir dan dibairkan membeku. Cincau hijau lebih lembek dan berair dibandingkan dengan cincau hitam, menurut yang saya baca, ini memang hasil dari perbedaan daun yang digunakan.

Entah karena nampak hijau, atau apa, pilihan saya cenderung pada cincau hijau, meskipun kadang-kadang saya suka juga cincau hitam, yang saya campurkan dalam susu kedelai, dimakan hangat-hangat waktu pagi....Hmmmmm

Apapun cincaunya, tetaplah sehat :D

beberapa literatur tentang cincau di bawah ini, silahkan dinikmati:

http://id.wikipedia.org/wiki/Cincau
http://ms.wikipedia.org/wiki/Pokok_Cincau_Hijau
http://wapedia.mobi/en/Grass_jelly

Sunday, March 29, 2009

Hue Food - My Favourite

Makanan Hue banyak macamnya, yang paling terkenal adalah Bun Bo Hue alias Bihun kuah daging sapi versi Hue. Selain Bun alias bihun kuah itu, ada yang terkenal juga namanya Banh Beo, bentuknya bulat gepeng dari tepung tapioka, makanya transparan, di isi dengan udang kecil kering. Di kalangan keluarga Banh ini, yang paling saya doyan adalah Banh It. Praktisnya, makanan ini adalah seperti ronde tapi ukuran lebih besar dan isinya kacang hijau seperti isi onde-onde. Rasanya asin, bukan manis dimakan dengan dituang kecap ikan, dan kalau suka dengan sambal. Di atasnya ditaburi tumisan daun bawang, dan abon ebi. Tapi saya doyan dimakan begitu saja.... Yummy!

Tuesday, March 10, 2009

Toast Box

Di Singapura, banyak banget tempat buat makan Kaya Toast (roti panggang dengan olesan selai sarikaya) plus secangkir Teh tarik hangat. Tapi favorit kami kalau di Singapura adalah Toast Box, dan saya maupun Fifo gemar dengan Boluo Yao, seperti soft bread yang diberi potongan mentega asin. Favorit lain adalah Peanut Thick Toast ( roti panggang dengan olesan selai kacang yang tebal....yummy!)

Boluo Yao & Teh Tarik